Jangan Sepelekan Keberadaan Lalat
Lalat, namanya bahkan menjadi lirik lagu anak di era 90-an. Keberadaan lalat dinilai sebagai indikator kebersihan suatu lingkungan. Bukan hanya di kawasan pemukiman, keberadaan lalat di peternakan juga dinilai meresahkan.
Kami yakin bahwa tidak ada yang tak kenal dengan lalat. Hewan dari filum arthropoda ini memang sudah seperti menjadi bagian sehari-hari dalam hidup. Hampir di tiap tempat pasti bakal mudah menemukan keberadaan lalat.Serangga terbang ini dikonotasikan sebagai sesuatu yang negatif. Begitu pula dalam dunia peternakan, lalat merupakan musuh yang juga harus dibasmi. Ledakan populasi lalat di suatu peternakan dapat menambah daftar panjang masalah yang harus diselesaikan dalam suatu peternakan.
Berbagai Jenis, Beragam Ancaman
Menurut ahli serangga, ada sekitar 240.000 spesies diptera (serangga dua sayap) dan secara umum dikenal sebagai lalat/fly termasuk simulium. Berdasarkan penemuan, lalat sudah hidup sekitar 225 juta tahun lalu. Beberapa spesies lalat bersifat parasit dan merugikan manusia termasuk di dunia peternakan. Oleh karenanya perlu diwaspadai keberadaan lalat di suatu peternakan, apapun jenis ternaknya. Hal ini dikarenakan tiap spesies lalat memiliki inang yang berbeda-beda. Di dunia p peternakan besar maupun kecil lalat adalah masalah yang harus dikendalikan. Hingga saat ini Indonesia masih struggle dalam mengendalikan penyakit surra pada sapi yang diperantarai vektor lalat dari keluarga Tabanidae. Contoh kerugian akibat penyakit surra di benua Asia mencapai $ 1,3 miliar pada 1998, ini belum termasuk biaya pengendalian vektornya. Di peternakan unggas, jenis lalat yang sering dijumpai antara lain lalat rumah (Muscadomestica), lalat buah (Lucilia sp.), lalat sampah (Ophyraaenescens), lalat tentara (soldier flies) dan lalat hitam (Simulium sp.). Lalat tersebut sering ditemukan di sekitar tempat pakan,litter, area sekitar feses, kolong kandang, selokan air, maupun bangkai ayam. Banyaknya populasi lalat tersebut tentu akan memberikan dampak buruk bagi lingkungan kandang dan masyarakat sekitar. Bahkan sering terdengardi media bahwa warga di sekitar peternakan ayam protes dan mengajukan penutupan suatu peternakan akibat lalat yang menyebar sampai ke wilayah pemukiman.
Memiliki Arti Penting
Mengapa lalat menjadi penting? Karena serangga bersayap dua ini dapat menjadi vector penyakit. Seperti yang sudah disebutkan, penyakit surra pada ruminansia dan hewan besar ditularkan juga melalui lalat. Lalat dapat berperan sebagai vektor mekanis maupun vektor biologis. Sebagai vektor mekanis, lalat hanya membawa bibit penyakit tersebut dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan sebagai vektor biologis, bibit penyakit masuk ke tubuh lalat ketika lalat mengigit atau hinggap di ayam. Bibit penyakit kemudian berkembang di tubuh lalat dan menular ke ayam lain. Lalat dapat berperan sebagai vektor penyakit Avian influenza (AI), Newcastle disease (ND), Gumboro, histomoniasis, leucocytozoonosis dan Necrotic enteritis (NE). Larva dan lalat dewasa juga menjadi inang perantara bagi infeksi cacing pita (Raillietina tetragona dan R. cesticillus) pada ayam. Larva dan lalat dewasa sering kali termakan oleh ayam sehingga ayam terinfestasi cacing pita.
Selain itu, lalat juga berperan sebagai vektor mekanik bagi cacing gilik (Ascaridia galli) maupun bakteri. Terlebih lagi diketahui dan tak jarang menemukan lalat sedang hinggap di ransum ayam. Tak heran jika kasus penyakit ayam rata-rata meningkat 10% dibandingkan musim kemarau, salah satunya karena peran lingkungan yang lembap sehingga bibit penyakit meningkat dan peran lalat sebagai vektor penyakit. Beragam literarur juga menyebutkan bahwa keberadaan lalat dapat menjadi pemicu stres di kandang. Hal ini akan berakibat pada turunnya nafsu makan dan asupan nutrisi berkurang. Sehingga pakan banyak tersisa dan FCR (Feed Convertion Ratio) meningkat. Kondisi tersebut akan berpengaruh pada pertambahan bobot badan harian ayam terhambat.
Upaya Mengendalikan
Dalam mengendalikan populasi perlu dipahami siklus hidup si organisme terlebih dahulu agar mempermudah dalam mengendalikannya. Dalam waktu 3-4 hari seekor lalat betina mampu menghasilkan rata-rata 500 butir telur. Yang dapat dilakukan pertama kali adalah mengontrol manajemen pemeliharaan, karena lalat sangat suka hinggap terutama di feses, maka feses dan sisa pakan harus dibersihkan setidaknya seminggu sekali. Usahakan juga agar pemberian pakan dan air minum rapih, maksudnya agar air dan sisa pakan tidak tumpah dan menjadi tempat lalat hinggap.
Sesering mungkin kontrol kandang, apabila ada kematian ayam, segera kumpulkan dan buang. Bila perlu segera dibakar agar bangkai tidak dihinggapi lalat karena menjadi salah satu spot favorit bagi mereka. Bila diperlukan pasang light trap di kandang, yakni perangkap mekanik untuk memancing lalat mendekat. Karena serangga sangat suka dengan cahaya terang, dengan adanya light trap lalat akan terperangkap dan terbunuh karena aliran listriknya. Insektisida juga sering menjadi pilihan peternak dalam mengatasi lalat. Yang perlu dipahami, penggunaan insektisida bukan menjadi core dan pilihan utama pengendalian lalat. Peternak tidak bisa menggantungkan pembasmian lalat hanya dari pemberian obat lalat saja, namun teknik pemberian obat juga harus dilakukan dengan tepat. Banyak pilihan insektisida yang bisa digunakan dalam membunuh lalat dari berbagai fase, hal itu bisa dikonsultasikan dengan dokter hewan.
Pengendalian lalat penting untuk dilakukan meskipun lalat bukan penyebab penyakit, namun lalat dalam jumlah berlebihan akan menjadi penyebar dan pemicu penyakit. Selain itu juga memicu masalah antara peternak dengan lingkungan sekitar. Peternakan ayam dituding sebagai biang munculnya banyak lalat. Lalat dewasa yang berterbangan di dalam kandang lebih sedikit jumlahnya jika dibandingkan dengan telur, larva dan pupa yang sesungguhnya jauh lebih banyak. Oleh karena itu, pengendalian lalat sejak dini yaitu saat stadium larva menjadi sebuah langkah bagus dalam membasmi keberadaan lalat.
sumber : INFOVET